Upacara Adat di Indonesia dan Tujuannya

Upacara adat apa saja yang terdapat di Indonesia? Upacara pernikahan, peringatan kematian, syukuran, tolak bala (menolak bencana) merupakan contoh upacara adat yang ada di berbagai daerah. Perkembangan upacara adat sangat erat dengan perkembangan kepercayaan dan agama di masyarakat Indonesia.

Apakah kamu pernah menyaksikan upacara adat di daerah mu? Setiap daerah memiliki upacara adat yang berebda-beda yang biasanya dilakukan setiap tahun sekali. Berikut ini adalah beberapa contoh upacara adat di berbagai daerah.

 

Upacara Adat di Indonesia dan Tujuannya

Upacara Adat di Indonesia dan Tujuannya
Upacara Adat di Indonesia dan Tujuannya

 

 

Upacara Wiwit untuk Panen Padi

Masyarakat Jawa pada masa lalu mempercayai adanya Dewi Sri sebagai Dewi Padi. Dewi inilah yang menjaga dan memberikan kesuburan kepada sawah milik petani. Para petani merasa bersyukur dengan panen padi yang akan mereka lakukan. Kemudian mereka mewujudkan rasa syukur itu dengan melakukan upacara Wiwit. Wiwit dalam bahasa Indonesia artinya memulai. Para petani memberikan sedekah untuk mewujudkan rasa syukur berupa makanan yang ditaruh di sawah.

 

Upacara Ngaben di Bali

Upacara ini sebenarnya merupakan pengaruh dari agama Hindu. Sebagian besar masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa tubuh manusia yang telah meninggal akan kembali lagi ke dunia yang disebut reinkarnasi. Agar perjalanan reinkarnasi lebih cepat, maka jenazah manusia yang telah meninggal dunia harus dibakar. Abu pembakaran kemudian dilarung atau dihanyutkan ke sungai atau ke laut. Abu tersebut akan segera terangkat naik bersamaan penguapan air. Selanjutnya akan turun lagi ke bumi bersamaan dengan air hujan.

 

Upacara Kasodo di Jawa Timur

Upacara Kasodo merupakan suatu upacara keagamaan yang diselenggarakan masyarakat Tengger, Jawa Timur. Masyarakat Tengger mengirim kurban kepada leluhur mereka yang ada di kawah Gunung Bromo. Upacara ini dilaksanakan setahun sekali yang mengikuti (penanggalan agama Hindu Tengger) yaitu ketika sudah memasuki bulan Kasada dan tepatnya pada hari ke 14.

Upacara ini bertujuan untuk mengangkat dukun atau tabib yang berada di setiap desa di sekitar Gunung Bromo. Pada upacara Kasodo ini masyrakat suku Tengger akan melemparkan sesajen yang berupa hasil panen seperti sayur-sayuran, buah-buahan, atau hewan ternak seperti ayam, bebek atau kambing bahkan ada juga yang melemparkan uang ke kawah gunung tersebut.

 

Upacara Ngutang Mayit di Bali

Masyarakat Bali ada yang tidak mengubur jenazah orang yang telah meninggal. Di desa Trunyan, manusia yang telah meninggal ditaruh di bawah pohon dan tidak dikubur atau dibakar. Upacara penyemayaman mayat di bawah pohon ini disebut Ngutang Mayit.

 

Upacara Tindik Telinga di Kalimantan Timur

Pada masyarakat Suku Dayak, menindik (melubangi) telinga merupakan satu kebanggaan tersendiri. Mereka ada yang memasang anting lebih dari lima buah.

Bagi mereka, Suku Dayak, telinga panjang memiliki makna yaitu untuk melatih kesabaran melalui adanya berat akibat manik-manik yang menempel pada telinga dan harus digunakan setiap hari. Dengan beban berat di telinga, rasa sabar dan penderitaan pun semakin terlatih.

 

Upacara Larung Sesaji di Daerah Istimewa Yogyakarta

Sebagian masyarakat DI Yogyakarta percaya bahwa di Laut Selatan (Samudera Indonesia) terdapat penguasa makhluk halus yaitu Nyai Roro Kidul. Untuk mendapatkan perlindungan dan menghindari kemarahan Ratu Selatan, sebagian penduduk melakukan upacara Larung Sesaji. Mereka memberikan sesaji dengan cara dilarung (dihanyutkan) di pantai selatan.