Tokoh-tokoh pada Masa Islam di Indonesia

Tokoh-tokoh pada Masa Islam di Indonesia – Kapan agama Islam mulai dianut bangsa Indonesia? Kamu tentu tidak asing dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darrussalam. Ibukota provinsi ini adalah Banda Aceh. Aceh juga sering disebut Serambi Mekah. Hal ini disebabkan Aceh merupakan pusat persebaran agama Islam di Indonesia. Aceh adalah daerah yang pertama kali terpengaruh agama Islam. Di sinilah kerajaan Islam pertama kali muncul. Bagaimana Islam datang ke Indonesia? Siapa yang menyebarkan agama Islam di Indonesia? Islam lahir di negara Arab. Mulai abad VII, Islam menyebar mulai dari jazirah Arab sampai Indonesia.

 

Sultan Ali Mughayat Raja Pertama Aceh

Tokoh-tokoh pada Masa Islam di Indonesia
Tokoh-tokoh pada Masa Islam di Indonesia

 

Ada pun Tokoh-tokoh pada Masa Islam di Indonesia yang pertama. Raja pertama dari Kerajaan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Ia memerintah pada tahun 1514-1528. Aceh berkembang pesat di bawah pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah. Kerajaan Aceh wilayahnya meluas di sebagian besar Pulau Sumatera. Raja-raja Kerajaan Aceh antara lain:

  1. Ali Mughayat Syah (1514-1528)
  2. Sultan Salahuddin (1528-1537)
  3. Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1537-1568)
  4. Sultan Husin (1568-1575)
  5. Sultan Alauddin Mansyur Syah (1577-1586)
  6. Raja Buyung (1586-1588)
  7. Sidi Al-Mukamil/Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1588-1604)
  8. Sultan Ali Ri’ayat Syah (1604-1607).

 

Sultan Iskandar Muda Mengusir Penjajah Portugis

Kebesaran Kerajaan Aceh terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Sultan Iskandar Muda berhasil membangun Kerajaan Aceh menjadi aman dan makmur. Pada masa pemerintahan Iskandar Muda, bangsa Portugis datang untuk menghancurkan Aceh. Portugis memaksa Aceh untuk memberikan hak istimewa dalam perdagangan, tetapi Aceh menolak. Rakyat Aceh tidak menyukai para pedagang Portugis yang congkak dan sombong. Pada tahun 1585, Portugis menyerang Kerajaan Aceh. Tentara Kerajaan Aceh melakukan perlawanan dengan sengit sehingga Portugis dapat dikalahkan. Kekalahan tersebut membuat Portugis meninggalkan Aceh.

Setelah serangan tersebut, Sultan Iskandar Muda segera bermusyawarah dengan para pemimpin kerajaan. Sultan Iskandar Muda menganggap Portugis sangat membahayakan kerajaannya. Para pejabat kerajaan sepakat untuk menyatukan kerajaan-kerajaan di sekitar Aceh. Sultan menggalang kekuatan dengan melakukan perluasan kekuasaan. Iskandar Muda menyatukan Johor, Kedah, Perlak, Pahang, Bintan, Nias, dan Deli.

Sultan juga terus memperkuat armada lautnya. Hal ini dilakukan guna melindungi kegiatan pelayaran dan perdagangan di seluruh wilayah Kerajaan Aceh. Duta-duta Aceh dikirim ke negara-negara sahabat untuk menjalin kerja sama. Setelah merasa mempunyai kekuatan yang cukup, Sultan segera mempersiapkan serangan. Pada waktu itu Portugis telah menguasai Malaka. Pada tahun 1629, Kerajaan Aceh menyerang Malaka. Namun, serangan ini belum berhasil. Persenjataan Portugis jauh lebih kuat dibandingkan persenjataan Kerajaan Aceh. Namun Portugis tidak berani lagi mengganggu Aceh. Hingga Iskandar Muda meninggal, Portugis tidak pernah mengusik Kerajaan Aceh. Baca Juga: Benda Peninggalan Bersejarah pada Masa Islam di Indonesia

 

Kemunduran Kerajaan Aceh

Iskandar Muda digantikan oleh menantunya yang bernama Iskandar Thani adalah tokoh pada masa islam di Indonesia. Ia memerintah pada tahun 1636 – 1641. Tahun 1641, Iskandar Thani digantikan oleh permaisurinya (putri Iskandar Muda). Sejak saat itu pemerintahan Aceh mengalami kemunduran, karena para pengganti Iskandar Muda kurang mampu menghadapi kelicikan Belanda. Belanda merebut Malaka tahun 1641 sehingga mempersulit pelayaran dan perdagangan Aceh. Pada tahun 1681, Aceh terpaksa mengadakan hubungan dengan Belanda. Sejak itu kekuasaan Aceh semakin dipersempit oleh Belanda. Sehingga mempercepat keruntuhan Kerajaan Aceh.

 

Raden Patah sebagai Raja Pertama Demak

Raden Patah sebagai Raja Pertama Demak
Raden Patah sebagai Raja Pertama Demak

 

Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berdiri pada tahun 1500 M. Raden Patah adalah raja pertamanya. Pada masa tersebut berdiri kekuasaan Portugis di Malaka. Kerajaan Demak merasa terancam oleh kedudukan Portugis. Maka pada tahun 1513, Raden Patah mengutus putranya yang bernama Pati Unus untuk menyerang Portugis di Malaka. Dengan menyiapkan armada lautnya, Pati Unus memimpin pasukan menyeberangi Laut Jawa sampai di Selat Malaka. Mereka menyerang kedudukan Portugis di Malaka. Namun, penyerangan tersebut gagal karena kalah persenjataan.

 

Pangeran Sabrang Lor yang Gagah Berani

Setelah Raden Patah wafat, Pati Unus menggantikan ayahnya sebagai raja. Pati Unus memerintah dari tahun 1518 sampai dengan 1521. Beliau terkenal sebagai panglima perang yang gagah berani. Pati Unus melarang pengiriman beras dari Jawa ke Malaka. Ia memerintahkan seorang tokoh bernama Katir untuk mengadakan blokade terhadap Malaka, sehingga Portugis kekurangan pangan.

Semasa hidupnya Pati Unus tidak mempunyai putra. Sehingga ketika beliau wafat, ia digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggono. Sultan Trenggono yang bijaksana dan gagah berani memerintah tahun 1521-1546. Pada masa pemerintahannya, Demak mencapai zaman keemasan. Ia meluaskan kekuasaannya sampai ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

 

Akhir Kerajaan Demak

Sepeninggal Sultan Trenggono, Kerajaan Demak mengalami kemelut perang saudara. Hal inilah yang menyebabkan Kerajaan Demak mengalami kemunduran. Daerah-daerah kekuasaan Kerajaan Demak mulai melepaskan diri. Sehingga berakhirlah Kerajaan Demak.

  • Sultan Agung Raja Mataram
  • Panembahan Senopati Pendiri Kerajaan Mataram

Mataram mulai berkembang pesat pada tahun 1586. Raja pertamanya adalah Panembahan Senopati. Pusat kerajaan ini berada di Yogyakarta. Rajanya yang terkenal adalah Sultan Agung yang memerintah tahun 1613 – 1645. Sultan Agung terkenal dalam mengusir penjajah Belanda dari Indonesia.

 

Usaha Sultan Agung Mengusir Penjajah Belanda

Belanda berhasil mendirikan kantor dagang di Batavia atau Jakarta. Sultan Agung memandang hal itu sebagai sesuatu yang membahayakan. Maka Sultan Agung segera merencanakan penyerangan atas kedudukan Belanda di Batavia. Tentara Mataram mengadakan dua kali serangan terhadap kedudukan VOC di Batavia. Serangan pertama dilakukan pada tahun 1628. Serangan kedua dilakukan pada tahun 1629. Kedua serangan itu gagal semua. Sultan Agung meninggal dunia pada tahun 1645. Ia dimakamkan di Bukit Imogiri, Yogyakarta.

 

Catatan Penting

Penyebab utama Sultan Agung gagal mengalahkan Belanda adalah kurangnya bekal logistik atau bahan makanan dan persenjataan. Jarak Yogyakarta ke Jakarta sangat jauh yang ditempuh melalui darat dan laut. Sesampai di Jakarta, bekal telah menipis dan persenjataan kalah kuat. Pada penyerangan kedua, pasukan Mataram menyiasati mendirikan lumbung pangan di berbagai tempat sepanjang perjalanan. Tetapi strategi tersebut diketahui Belanda. Lumbung-lumbung pangan dibakar. Pada penyerangan kedua tentara Mataram tidak berhasil mengusir Belanda.

 

Sepeninggal Sultan Agung, Kerajaan Mataram mengalami konflik keluarga. Belanda memanfaatkan situasi tersebut dengan campur tangan dalam kerajaan. Akhirnya Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua. Berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755), Kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dengan perpecahan ini kedudukan Mataram semakin lemah.

 

Kerajaan Banten di Provinsi Banten

Kerajaan Banten di Provinsi Banten
Kerajaan Banten di Provinsi Banten

 

Raja pertama di Banten adalah Hasanuddin yang memerintah pada tahun 1527-1570. Pada masa pemerintahan Hasanuddin, Kerajaan Banten terus dikembangkan. Perluasan daerah ke pedalaman terus dilakukan. Perluasan wilayah juga dilakukan ke luar Jawa. Akhirnya wilayah Lampung, Indrapura, Selebar, dan Bengkulu dapat dikuasai. Dengar demikian daerah kekuasaan Hasanuddin semakin luas. Raja-raja Kerajaan Banten di antaranya Pangeran Yusuf (1570-1580), Maulana Muhammad (1580-1596), Abdulmufakir, Abumaali Achmad., Sultan Abdulfattah atau Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), Sultan Abdulnasar Abdulkahar. Di antara raja-raja tersebut, Sultan Ageng Tirtayasa yang paling terkenal karena kebesarannya. Baca Juga: Kerajaan Islam di Indonesia

 

Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan

Pada abad ke-16, terdapat beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan. Gowa, Bone, Luwu, Tallo, Soppeng, Wajo, dan Sidenreng adalah kerajaan yang rakyatnya hidup makmur. Goa dan Tallo adalah dua kerajaan yang berkembang sejak abad XVI. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu menjadi Kerajaan Makassar. Kerajaan Makassar mencapai puncak kejayaan pada abad XVII yang dipimpin Sultan Malikussaid. Dalam masa pemerintahannya, Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim yang besar.

Pada tahun 1653, Sultan Malikussaid digantikan oleh putranya bernama Sultan Hasanuddin. Beliau memerintah pada tahun 1653-1669. Ingat, Sultan Hasanuddin tidak sama dengan Raja Hasanuddin di Banten. Sultan Hasanuddin dikenal sebagai raja yang anti penjajah. Pada saat Sultan Hasanuddin menjadi raja, Belanda semakin berniat menguasai Sulawesi.

Belanda memaksakan hak monopoli perdagangan. Sultan Hasanuddin tidak menyukai sikap Belanda yang congkak tersebut. Sultan Akhirnya Sultan Hasanuddin memimpin perlawanan terhadap Belanda. Sultan Hasanuddin sangat gigih dan pantang menyerah. Beliau berprinsip mati sahid atau terjajah. Karena kegigihan Sultan Hasanuddin, Belanda menjulukinya ayam jantan dari timur. Belanda menjadi sangat takut dengan perlawanan Hasanuddin. Belanda mengeluarkan biaya yang banyak untuk menghadapi Sultan Hasanuddin. Akhirnya Belanda menggunakan akal liciknya. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya. Perjanjian ini sangat merugikan rakyat karena Belanda mempunyai hak monopoli

 

Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan

Provinsi apa saja yang ada di Kalimantan? Apa nama ibukota Provinsi Kalimantan Selatan? Banjarmasin adalah ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin pernah berkembang kerajaan Islam yang cukup besar. Salah satu raja yang terkenal adalah Pangeran Samudra yang bergelar Sultan Suryanullah. Berkat kepemimpinannya, rakyat Banjar hidup makmur. Banjar juga menjalin kerja sama dengan Kerajaan Demak. Kerja sama itu bertujuan untuk saling membantu dalam memakmurkan rakyat. Selain itu, juga untuk menggalang kekuatan terhadap ancaman kerajaan lain. Baca Juga: Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia

 

Sultan Baabullah Mengusir Portugis dari Maluku

Pada abad XIII, di Kepulauan Maluku berkembang beberapa kerajaan Islam. Kerajaan yang tertua adalah Jailolo. Setelah itu, muncul kerajaan Ternate yang beribukota di Sampalu. Selanjutnya, muncul kerajaan-kerajaan lain, seperti Tidore, Bacan, dan Obi. Kerajaan Ternate dan Tidore adalah dua kerajaan yang paling kuat.

Ternate mencapai zaman keemasan di bawah pemerintahan Sultan Baabullah (1570 – 1583). Pada tahun 1580, Sultan Baabulah berhasil meluaskan wilayahnya sampai di Sulawesi, Bima, Manado, dan Irian. Sultan Baabullah sangat terkenal karena keberhasilannya mengusir Portugis dari Maluku.

Pada tahun 1512, Portugis sampai di Maluku. Untuk memperkuat pertahanan, Portugis mendirikan benteng di Ternate yang bernama benteng Saint John. Portugis berusaha menguasai perdagangan di Maluku dengan cara melakukan adu domba kerajaan-kerajaan di Maluku. Portugis juga mengadu domba kerajaan Ternate dan Tidore. Tetapi kedua kerajaan tersebut menyadari bahwa Portugis hanya ingin menguasai Maluku.

Sultan Khairun yang memerintah pada tahun 1550-1570, segera memimpin perlawanan untuk mengusir Portugis. Benteng pertahanan Portugis dikepung oleh pasukan Sultan Khairun. Dalam keadaan yang terjepit, Gubemur Portugis, De Mesquita, menawarkan perundingan. Pada saat berunding, Sultan Khairun dibunuh oleh tentara Portugis.

Kejadian itu menimbulkan kemarahan rakyat Maluku. Sultan Baabullah, putra Sultan Khairun, segera memimpin perlawanan. Sultan Tidore juga ikut membantu Ternate untuk melawan Portugis. Benteng Portugis di Ternate dikepung selama lima tahun. Akibatnya, Portugis kekurangan bahan makanan. Kemudian pada tahun 1575 Portugis menyerah. Baca: Sejarah Masa Penjajahan Belanda

 

Tokoh-tokoh Masa Kerajaan Islam yang Lain

  • Kerajaan pertama di Indonesia adalah Kutai. Raja yang terkenal adalah Mulawarman. Beliau seorang raja bijaksana dan taat beragama.
  • Di Jawa Barat muncul kerajaan Tarumanegara. Rajanya adalah Purnawarman. Beliau berhasil membangun Sungai Candrabaga dan Sungai Gomati untuk kemajuan pertanian.
  • Pada masa Hindu-Buddha juga ada raja perempuan. Tokoh perempuan misalnya Ratu Sima. Beliau adalah raja Kaling di Jawa Tengah. Kerajaan ini sangat tegas menerapkan sistem hukum kerajaan.
  • Sriwijaya adalah salah satu kerajaan yang wilayahnya sangat luas. Balaputradewa adalah salah satu rajanya yang terkenal. Karena luas wilayahnya, Sriwijaya sering disebut kerajaan nasional pertama.
  • Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada berhasil menggerakkan rakyat untuk membangun kerajaan nasional. Kerajaan Majapahit inilah yang sering disebut kerajaan nasional kedua.
  • Kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia adalah Kerajaan Aceh, Kerajaan Demak di Jawa Tengah, Kerajaan Banten di Provinsi Banten, Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan, Kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku, Kerajaan Goa di Makassar, dan lain-lain.
  • Beberapa tokoh pada masa Islam yaitu: Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh, Raden Patah dan Pati Unus dari Kerajaan Demak, Sultan Agung dari Mataram.
  • Selain para raja, juga banyak tokoh Islam di luar kerajaan. Wali Songo atau sembilan wali adalah penyebar agama Islam terkenal di Jawa.