Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila

 Proses Perumusan Pancasila – Apakah Pancasila itu? Kapan Pancasila dirumuskan? Menurut sejarahnya, Pancasila dirumuskan dan ditetapkan oleh para pendiri negara untuk dijadikan dasar negara bagi Indonesia merdeka. Bagaimana proses perumusan Pancasila dan nilai-nilai juang apa saja yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Kedepannya  diharapkan kita dapat menjelaskan nilai-nilai juang apa saja yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh bangsa dalam proses merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. Selain itu, kalian juga dapat menceritakan kembali secara singkat tentang nilai-nilai perjuangan bangsa. Harapannya sebagai generasi penerus kalian dapat mewarisi, meneladani dan melanjutkan nilai-nilai juang tersebut untuk membangun Indonesia di masa depan.

 

Proses Perumusan Pancasila

Proses Perumusan Pancasila
Proses Perumusan Pancasila

 

Pancasila bagi bangsa Indonesia merupakan dasar negara dan ideologi negara. Menurut sejarahnya, Pancasila dirumuskan dan ditetapkan oleh para pendiri negara untuk dijadikan dasar negara bagi Indonesia merdeka. Dalam proses perumusan Pancasila tersebut terdapat nilai-nilai juang yang dilakukan para tokoh bangsa pada masa lalu.

 

Makna Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara

Makna Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara
Makna Nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara

 

Proses perumusan Pancasila tidak lepas dari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dan lepas dari penjajahan. Pada waktu itu Pancasila dimaksudkan untuk menjadi dasar negara Indonesia merdeka di kelak kemudian hari.

Dari sejarah perumusan Pancasila, banyak sekali nilainilai juang yang dapat dijadikan teladan atau contoh bagi generasi muda Indonesia. Nilai-nilai tersebut terutama nilainilai perjuangan. Hal ini karena Pancasila dirumuskan pada masa perjuangan.

Untuk itu, agar kalian mengetahui nilai-nilai juang apa saja yang dapat digali dari sejarah perumusan Pancasila, maka perlu kalian ketahui terlebih dahulu sejarah perumusan Pancasila.

 

Proses Sejarah Perumusan Pancasila

 

Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

Pada akhir tahun 1944, Jepang banyak mengalami kekalahan melawan Sekutu. Agar mendapat dukungan dari negara-negara jajahannya Jepang menjanjikan akan memberi kemerdekaan kepada bangsa-bangsa tersebut. Indonesia sebagai negara jajahan Jepang juga dijanjikan akan mendapatkan kemerdekaan. Janji kemerdekaan untuk bangsa Indonesia diucapkan oleh Perdana Menteri Jepang Koiso pada bulan September 1944.

Dalam usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 1 Maret 1945, Jepang mengumumkan akan membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Chosakai) disingkat BPUPKI.

BPUPKI memiliki arti penting bagi Indonesia karena badan inilah yang menghasilkan rancangan Pembukaan UUD yang di dalamnya ada Pancasila dan Batang Siapakah yang membentuk BPUPKI? Uji Diri Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka Gambar 1.1 Sidang BPUPKI Tubuh UUD. Badan dibentuk pada tanggal 29 April 1945, namun baru diresmikan pada tanggal 28 Mei 1945. BPUPKI yang saat itu diketuai oleh dr. Radjiman Widyodiningrat dengan dua orang wakil ketua masing-masing Icebangase dan Raden Panji Soeroso. Sedangkan BPUPKI untuk Pulau Sumatra baru dibentuk tanggal 25 Juli 1945 dan hanya mampu menyusun program-program jangka pendek.

 

Sidang BPUPKI I tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945

Sidang pertama BPUPKI membahas tentang rancangan dasar negara. Hal ini sesuai dengan permintaan ketua BPUPKI dr. Radjiman Widyodiningrat yang menanyakan apa dasar bagi negara yang akan kita bentuk.

Banyak anggota yang berpidato dan berusaha menjawab permintaan ketua sidang tersebut. Di antara para anggota tersebut adalah Moh. Hatta, Haji Agus Salim, Samsoedin, Wongsonegoro, Ki Bagus Hadikusumo, Muh. Yamin, Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno.

Setelah itu, BPUPKI mengalami reses (masa istirahat). Di sela-sela masa itu sebagian anggota BPUPKI berkumpul di Jakarta untuk mencari kesepakatan atas hasil sidang BPUPKI I. Ada sembilan orang anggota BPUPKI yang berupaya keras merumuskan rancangan pembukaan hukum dasar negara yang di dalamnya ada asas atau dasar negara. Panitia ini selanjutnya dikenal dengan nama panitia sembilan.

Anggota panitia sembilan terdiri atas:

(1) Ir. Soekarno

(2) Drs. Mohammad Hatta

(3) Mr. A.A. Maramis

(4) KH. Wachid Hasyim

(5) Abdul Kahar Muzakir

(6) Abikusno Tjokrosuyoso

(7) H. Agus Salim

(8) Mr. Ahmad Subardjo

(9) Muhammad Yamin

 

Pada tanggal 22 Juni 1945, panitia sembilan berhasil merumuskan rancangan mukadimah hukum dasar, yang kemudian dinamakan Piagam Jakarta.

Di dalam rancangan mukadimah hukum dasar Negara itu termuat pula rumusan lima prinsip dasar negara, yaitu:

(1) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab.

(3) Persatuan Indonesia.

(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hasil rumusan itu selanjutnya dibawa ke sidang BPUPKI II untuk mendapatkan keputusan bersama.

 

Nilai-nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara

Berdasar pada uraian sejarah di atas, kalian mengetahui bagaimana proses dirumuskan dan disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pancasila merupakan hasil perumusan dan kesepakatan para tokoh perjuangan dan para pendiri negara. Mereka telah bekerja keras mencari dan merumuskan dasar-dasar negara untuk Indonesia yang merdeka.

Dalam proses perumusan Pancasila, terdapat beberapa nilai juang yang ditampilkan para tokoh bangsa tersebut. Nilainilai ini dinamakan nilai juang sebab terjadi pada masa perjuangan bangsa. Nilai-nilai juang tersebut, antara lain:

  • Musyawarah

Para pendahulu negara kita telah memberi contoh bahwa dalam menyelesaikan masalah dilakukan dengan cara musyawarah. Misalnya dengan mengadakan rapat atau sidang. Untuk menyelesaikan masalah negara para tokoh menyelenggarakan sidang BPUPKI, PPKI, dan rapat-rapat lainnya.

  • Menghargai Pendapat

Dalam sidang-sidang BPUPKI, PPKI, dan sidang lainnya, para anggota telah menunjukkan contoh saling menghargai pendapat. Mereka saling memberi, menerima, dan membuat kesepakatan-kesepakatan bersama.

  • Tanpa Pamrih

Para tokoh bangsa berjuang tanpa pamrih. Mereka bersidang dengan semangat hanya untuk menghasilkan yang terbaik bagi bangsanya. Mereka tidak banyak berharap mendapatkan keuntungan diri sendiri.

  • Kerja Keras

Para tokoh bangsa bekerja keras untuk menghasilkan karya terbaik bagi bangsa. Contohnya, panitia sembilan bekerja keras untuk menyepakati rancangan pembukaan hukum dasar negara meskipun BPUPKI sedang masa reses.

  • Rela Berkorban

Para tokoh bangsa rela berkorban. Mereka rela meninggalkan keluarga dan tempat tinggal. Demikian pula rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan jiwa dalam rangka memerdekakan Indonesia.

  • Keberanian

Para anggota BPUPKI mengadakan sidang di tengah ancaman penjajahan Jepang. Meskipun demikian mereka tetap berani menyuarakan keinginan untuk merdeka.

  • Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan

Para anggota BPUPKI dan PPKI meskipun dari berbagai daerah di Indonesia tetapi tetap mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa daripada kepentingan golongan. Demi persatuan dan keutuhan bangsa, mereka bersedia dan rela untuk tidak memaksakan kehendaknya.

Contohnya, golongan Islam rela dengan perubahan sila I Piagam Jakarta yaitu ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini demi untuk persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Ini merupakan wujud pengorbanan dan semangat persatuan dari umat Islam.

  • Mencari Kesepakatan/Mufakat

Dalam mendapatkan putusan, para anggota sidang berusaha mencari kesepakatan atau kata mufakat. Contohnya adalah menyepakati Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila bukan hasil paksaan tetapi kesepakatan bangsa Indonesia

  • Menghindari Kekerasan

Bila ada perbedaan pendapat, maka tetap ditempuh cara damai bukan dengan kekerasan dan paksaan. Para anggota PPKI tidak saling menekan dan memaksa. Contohnya, pada saat pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat pada tanggal 18 Agustus 1945 di Jakarta.