Sejarah Masa Penjajahan Belanda di Indonesia

Masa Penjajahan Belanda di Indonesia – Kekayaan alam Indonesia sangat berlimpah. Masyarakat Indonesia mudah diajak bekerja sama. Kedua hal tersebut merupakan daya tarik bangsa Indonesia. Daya tarik ini mendorong datangnya bangsa-bangsa Barat ke Indonesia. Mereka datang ke Indonesia untuk menguasai kekayaan Indonesia dengan mencuri sumber daya alam dan memeras sumber daya manusia. Bangsa-bangsa mana saja yang pernah menjajah negeri Indonesia?

 

Sejarah Masa Penjajahan Belanda di Indonesia Lengkap

Sejarah Masa Penjajahan Belanda di Indonesia
Sejarah Masa Penjajahan Belanda di Indonesia

 

 

Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris adalah negara-negara Eropa Barat. Mereka melakukan pelayaran ke timur untuk melakukan perdagangan. Apa yang mereka cari? Mereka sangat membutuhkan rempah-rempah seperti cabe, mrica, kakao, cengkih. Rempah-rempah tersebut sangat membantu memanaskan suhu tubuh mereka.

Mengapa mereka dapat mencapai Indonesia? Awalnya bangsa Barat mendapatkan rempah-rempah dari pedagang Arab. Di wilayah Timur Tengah harga tersebut sangat mahal. Sehingga mereka berusaha mencari sumber rempah-rempah. Hal ini dilakukan agar mendapat harga yang lebih murah.

Pada saat yang sama di Eropa berkembang berbagai industri yang pesat. Pabrik-pabrik dibangun, termasuk sarana transportasi. Mereka berhasil membangun kapal dengan cara modern. Hal itulah yang mempercepat proses kedatangan mereka ke Asia termasuk Indonesia.

Bangsa Portugis datang ke Indonesia pada tahun 1521. Mereka berlabuh di Maluku. Pada masa tersebut, kerajaan yang kuat di Maluku adalah Ternate dan Tidore. Portugis sangat menginginkan rempah-rempah di Maluku yang sangat banyak. Mereka berusaha membujuk Kerajaan Ternate dan Tidore untuk memberikan hak khusus bagi Portugis. Hak khusus adalah hak monopoli, yakni menguasai perdagangan rempah-rempah. Tetapi rakyat Maluku menolak.

Portugis lalu mencari akal licik. Kerajaan Ternate dan Tidore diadu domba. Usaha Portugis berhasil bahkan Ternate dan Tidore menjadi dua kerajaan yang bermusuhan. Bahkan Portugis membunuh Sultan Hairun dari Ternate pada tahun 1570. Akibatnya rakyat Maluku marah. Usaha mengusir Portugis terus dilakukan bahkan Sultan Baabullah secara berani mengobarkan perang. Rakyat Maluku bergerak. Akhirnya Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1575.

Usaha mengusir Portugis juga dilakukan oleh Kerajaan Demak. Raja Demak, Raden Patah, mengutus Pati Unus untuk memimpin penyerangan terhadap Portugis di Malaka. Penyerangan tahun 1512 dan 1513 belum berhasil. Pada tahun 1527, tentara Demak kembali menyerang Portugis dipimpin Fatahillah. Waktu itu Portugis telah ada di Sunda Kelapa (Jakarta). Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.

Usaha Portugis untuk menguasai Indonesia gagal. Tetapi pada masa selanjutnya datang lagi bangsa yang ingin menjajah yakni bangsa Belanda. Dengan berbagai kelicikannya akhirnya Belanda berhasil menjajah Indonesia. Belanda adalah negara yang paling lama menjajah negeri Indonesia. Baca: Masa Penjajahan Jepang di Indonesia

 

Proses Penjajahan Belanda dan Tujuan Belanda Mendirikan VOC di Indonesia

Belanda Mendirikan VOC di Indonesia
Belanda Mendirikan VOC di Indonesia

 

Tahun 1596, Cornelis de Houtman beserta rombongan berhasil mencapai Banten, dekat Jakarta. Mereka kemudian juga berhasil mendarat di Maluku. Belanda lalu mendirikan kantor dagang di Batavia (Jakarta). Pada tahun 1602 para pedagang Belanda membentuk Vereenigde Oost Indische Compagnic (VOC) artinya Perserikatan Maskapai Hindia Timur. VOC dipimpin oleh seorang gubernur jenderal. VOC mempunyai beberapa hak di antaranya:

1) Hak melakukan monopoli perdagangan di daerah yang ditempati

2) Membentuk tentara sendiri, mengangkat pegawai, dan membentuk pengadilan.

3) Melakukan perjanjian politik dan ekonomi dengan kerajaan-kerajaan, serta melakukan perang atau damai dengan bangsa/suatu kerajaan lain.

4) Hak mencetak mata uang sendiri.

 

Belanda Menguasai berbagai Kerajaan dengan Politik Adu Domba

Pada masa itu sejak kedatangan Belanda, di Indonesia masih tumbuh kerajaan Islam. Di Jawa terdapat kerajaan Demak, Banten, Cirebon, dan Mataram. Di Sumatera terdapat Kerajaan Aceh yang sangat besar, di Sulawesi ada Goa dan Talo, dan di Kalimantan terdapat Kerajaan Banjar. Belanda berusaha mengadu domba kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia.

Cara belanda mengadu domba kerajaan adalah satu per satu kerajaan didekati agar mau memberikan hak monopoli perdagangan kepada Belanda (VOC). Belanda menginginkan agar rakyat Indonesia menjual hasil bumi kepada Belanda saja. Belanda membelinya dengan harga murah sehingga mereka akan mendapat banyak keuntungan ketika dijual di Eropa.  Baca: Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia

Tidak semua kerajaan di Indonesia bersedia mengikuti keinginan Belanda. Kerajaan yang telah hafal dengan sifat Belanda, menolak kerja sama dengan Belanda. Tetapi kerajaan yang belum memahami sifat Belanda, berhasil dibujuk Belanda untuk bekerja sama. Strategi yang paling terkenal Belanda dalam menaklukkan kerajaankerajaan di Indonesia adalah politik adu domba. Dalam bahasa Belanda politik ini dikenal dengan nama politik devide et impera.

Belanda melibatkan diri dalam urusan-urusan kerajaan di Indonesia. Ketika terjadi konflik dalam kerajaan, Belanda mendukung salah satu kerajaan. Belanda mendukungnya hingga akhirnya menang. Setelah menang, lalu tampaklah niat asli Belanda. Belanda menguasai kerajaan tersebut. Akhirnya satu per satu kerajaan di Indonesia berhasil dikuasai Belanda.

Persekutuan dagang Hindia Belanda (VOC) bangkrut pada tahun 1799. Hal ini disebabkan oleh korupsi yang dilakukan para pegawai VOC. Pada akhir tahun 1799, VOC dibubarkan. Lalu pada tahun 1800 Pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan VOC di Indonesia. Sejak masa itu, secara resmi Indonesia di bawah pemerintah Belanda. Indonesia menjadi semacam provinsi dari negara Belanda. Padahal luas negara Belanda jauh lebih kecil dibanding luas Indonesia. Dengan melakukan penjajahan di Indonesia, negara Belanda menjadi semakin kaya raya. Tetapi bangsa kita semakin miskin dan sengsara.

 

Mendirikan Pemerintah Hindia Belanda

Pada tanggal 1 Januari 1800, Indonesia secara resmi diperintah oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kerajaan Belanda membentuk pemerintahan kolonial yang disebut Hindia Belanda (Nederlands Indie). Indonesia (Hindia Belanda) diperintah/dikepalai seorang gubernur jenderal. Sejak saat itu Indonesia secara resmi diperintah dari negeri Belanda.

 

Penderitaan Akibat Penjajahan Belanda

Dalam masa penjajahan Belanda, rakyat Indonesia mengalamli banyak sekali penderitaan. Penderitaan yang dialami sangatlah panjang selama 350 tahun. Belanda menjajah Indonesia pada tahun 1592 sampai 1942. Belanda awalnya datang ke Indonesia dengan sikap yang ramah. Namun pada tahun-tahun berikutnya, sikap bangsa Belanda mulai keterlaluan, kejam dan memperbudak rakyat Indonesia.

  • Tidak diberikan makan
  • Disiksa setiap hari
  • Kesengsaraan rakyat indonesia
Penderitaan Akibat Penjajahan BelandaPenderitaan Akibat Penjajahan Belanda
Penderitaan Akibat Penjajahan Belanda

 

Runtuhnya berbagai Kerajaan di Indonesia

Sejak kedatangan bangsa Barat ke Indonesia, suasana kerajaan di Indonesia semakin kacau. Belanda telah menyebabkan kebencian para raja dan rakyat Indonesia. Sikap Belanda yang selalu memaksakan kehendak dalam perdagangan telah mengakibatkan pertentangan dengan para raja. Akibatnya terjadi perang antara Belanda dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia

Kamu masih ingat dengan politik devide et impera? Belanda sadar bahwa kelemahan utama bangsa Indonesia adalah mudah dipecah belah. Belanda mengadu dua kerajaan agar saling berperang. Selanjutnya Belanda mendukung persenjataan salah satu kerajaan. Setelah yang satu kalah, akhirnya Belanda minta pembagian kekuasaan kepada kerajaan yang menang. Hal inilah yang menyebabkan keruntuhan kerajaan-kerajaan di Indonesia.

Berikut ini beberapa contoh kerajaan yang jatuh ke tangan Belanda.

1) Pada tahun 1667 Tidore sebagai kerajaan terkuat di Maluku juga mengakui kekuasaan VOC.

2) Kerajaan Goa di Sulawesi Selatan jatuh ke tangan Belanda tahun 1667.

3) Kemerdekaan Kerajaan Banten di Jawa Barat telah diambil oleh VOC tahun 1695.

4) Kerajaan Banjarmasin di Kalimantan jatuh ke kekuasaan Belanda tahun 1866.

5) Tahun 1906 seluruh kerajaan di Bali jatuh ke pihak Belanda.

 

Usaha Belanda Menguasai Perdagangan Indonesia

Belanda berusaha menghalangi para pedagang asing untuk berhubungan dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Keberhasilan Belanda dalam membujuk para raja telah berhasil melakukan hak monopoli perdagangan. Para pedagang Indonesia pun tidak bebas melakukan perdagangan selain dengan Belanda. Padahal harga barang dagangan kepada pedagang asing lebih tinggi daripada kepada Belanda.

 

Usaha Belanda Menguras Kekayaan Alam Indonesia

Setelah berhasil menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia, Belanda berusaha menguras kekayaan alam Indonesia. Berikut ini cara yang dilakukan Belanda untuk menguras kekayaan alam Indonesia.

1) Membeli barang dari para pedagang Indonesia dengan harga murah.

2) Mewajibkan rakyat Indonesia menanam tanaman yang laku dijual di Eropa.

3) Menarik pajak tinggi untuk rakyat Indonesia.

4) Menerapkan wajib kerja bagi rakyat Indonesia untuk perkebunan Belanda.

 

Usaha Belanda Memanfaatkan Tenaga Kerja Bangsa Indonesia

  • Bekerja di Perkebunan dan Pertambangan

Rakyat Indonesia dipaksa untuk bekerja guna mendukung keperluan Belanda. Mereka disuruh mengerjakan lahan-lahan perkebunan Belanda. Para pekerja Indonesia bekerja siang dan malam di perkebunan. Kondisi mereka sangat mengenaskan. Mereka memang digaji, tetapi gajinya sangat rendah. Akibatnya banyak pekerja Indonesia yang kekurangan gizi. Berbagai penyakit sulit diobati karena kurang sarana kesehatan. Akhirnya banyak pekerja yang meninggal di daerah perkebunan di Sumatera.

Di daerah pertambangan Kalimantan dan Sumatera juga banyak tenaga kerja Indonesia. Kondisinya jauh lebih memprihatinkan. Mereka dipaksa bekerja di daerah pertambangan yang terpencil. Ribuan rakyat Indonesia meninggal karena tidak tahan beratnya pekerjaan dan siksaan yang diderita.

  • Membuat Jalan dan Rel Kereta Api

Belanda membutuhkan jalan yang mudah untuk mengambil kekayaan Indonesia dari berbagai daerah perkebunan dan pertambangan. Untuk mempercepat pengangkutan, Belanda membangun jalan dan rel kereta api. Sarana ini dibangun untuk menghubungkan kota-kota besar ke daerah pedalaman. Kamu dapat menelusuri pembangunan rel kereta api peninggalan masa penjajahan Belanda terutama di Jawa dan Sumatera.

 

Pembangunan jalan Anyer Panarukan

Herman Willem Deandels (1808-1811) adalah gubernur jenderal pertama Hindia Belanda. Ia berusaha mendapatkan keuntungan dari penjajahan di Indonesia. Berbagai sarana dibangun. Deandels membangun benteng-benteng pertahanan dan meningkatkan jumlah tentara dari 4000 menjadi 18000 orang. Untuk mendukung seluruh aktivitas pemerintahan, Deandels membangun jalan raya sepanjang 1000 km. Jalan ini menghubungkan Anyer (ujung barat Jawa) dan Panarukan (ujung timur Jawa). Pembangunan jalan selama satu tahun tersebut banyak memakan korban dan penderitaan rakyat akibat kerja wajib.

Pembangunan jalan Anyer Panarukan
Pembangunan jalan Anyer Panarukan

 

Hasil bumi penduduk Indonesia diangkut menggunakan kereta dan pedati. Pembangunan jalan ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk menekan besarnya biaya pembangunan, Belanda memaksa penduduk Indonesia bekerja. Penduduk yang tidak mau bekerja dianggap pemberontak dan dihukum. Kegiatan ini disebut kerja paksa atau kerja rodi. Pemuda dan orang dewasa disuruh membangun jalan raya dan rel kereta api dengan upah yang sangat kecil. Bahkan sebagian dari mereka tidak menerima upah. Akibatnya banyak penduduk yang kelaparan dan kekurangan gizi.

 

Tokoh Pejuang pada Masa Penjajahan Belanda

Penjajahan yang dilakukan oleh Belanda mengakibatkan penderitaan bagi rakyat Indonesia. Sehingga timbullah perlawanan dari rakyat karena tindakan Belanda yang sewenang-wenang. Berikut ini beberapa tokoh daerah yang berusaha mengusir Belanda.

 

1.Pattimura atau Thomas Matullesi

Pemerintahan Belanda di Maluku benar-benar membuat rakyat sengsara. Rakyat Maluku tidak lagi mempunyai kebebasan berdagang. Apalagi Belanda sering campur tangan dalam urusan kerajaan di Maluku. Keadaan tersebut mendorong Thomas Matulessi (Pattimura) memimpin perlawanan. Pada tahun 1817, rakyat Ambon menyatakan perlawanan terhadap Belanda. Ternyata dukungan segera datang dari berbagai masyarakat.

Pusat perlawanan berada di Saparua. Rakyat Maluku berhasil merebut benteng Belanda bahkan membunuh Residen van den Berg. Belanda benarbenar tidak menyangka perlawanan rakyat Maluku sangat sengit. Hal ini memaksa Belanda minta bantuan pasukan ke Jakarta. Kemudian datanglah pasukan tambahan Belanda dari Jakarta. Mereka menggunakan senjata yang lebih canggih. Belanda berhasil menangkap Pattimura dan tiga pengikutnya. Ketiga pahlawan ini dihukum gantung oleh Belanda.

 

2.Tuanku Imam Bonjol

Di Minangkabau, Sumatera Barat terjadi perselisihan pendapat antara kaum Padri dan kaum Adat. Belanda memanfaatkan perselisihan tersebut dengan memihak kaum Adat. Akhirnya meletus peperangan antara kaum Padri dan Kaum Adat. Kaum Adat sadar bahwa Belanda hanya memanfaatkan keadaan. Akhirnya kaum Padri dan kaum Adat bersatu kembali. Mereka melakukan perlawanan terhadap Belanda mulai tahun 1821. Kaum Padri dipimpin Tuanku Imam Bonjol, Tuanku nan Cerdik, Tuanku Tambusai, dan Tuanku nan Alahan. Perlawanan kaum Padri berhasil mendesak benteng-benteng Belanda.

Setelah berhasil memadamkan perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa, Belanda kembali menghadapi perang Padri. Belanda menerapkan sistem pertahanan Benteng Stelsel. Benteng Fort de Kock di Bukittinggi dan Benteng Fort van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanan Dengan siasat ini akhirnya Belanda menang, yang ditandai jatuhnya benteng pertahanan terakhir Padri di Bonjol tahun 1837. Tuanku Imam Bonjol ditangkap, kemudian diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan terakhir di Manado hingga wafat tahun 1864.

 

3.Pangeran Diponegoro mengobarkan perang Jawa 1825-1830

Penyebab utama perlawanan Diponegoro adalah peristiwa yang terjadi pada tahun 1825. Belanda membangun jalan baru tanpa seizin Diponegoro. Belanda memasang patok-patok pada tanah leluhur Diponegoro. Lalu Diponegoro memerintahkan pengikutnya yang bernama Patih Danureja IV untuk mencabuti patok-patok tersebut. Rakyat Yogyakarta sudah siap menghadapi kemarahan Belanda.

Akhirnya benar perkiraan Diponegoro. Belanda marah dan mengutus serdadu untuk menangkap Diponegoro. Bahkan pada tanggal 20 Juli 1825, Belanda mengirim pasukan untuk menyerang kedudukan Diponegoro di Tegalrejo. Kampung tersebut dibakar dan direbut oleh Belanda. Tetapi Diponegoro dan pasukannya telah membuat benteng pertahanan baru. Tempat tersebut tidak jauh dari kota Yogyakarta, yakni di Goa Selarong. Di goa itulah Pangeran Diponegoro menyusun siasat dan komando perlawanan.

Diponegoro mengumandangkan Perang Jawa. Perlawanan tersebut menjalar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lima belas pangeran keraton Yogyakarta bergabung mendukung Diponegoro. Belanda benar-benar dalam keadaan terjepit. Berbagai rayuan Belanda tidak digubris tentara Diponegoro.

Pada tahun 1829, Belanda berhasil menangkap Kyai Maja. Beliau adalah salah satu panglima perang Diponegoro. Kemudian disusul Pangeran Mangkubumi, dan panglima Sentot Ali Basyah Prawiryodirjo.

Pada bulan Maret 1830, Diponegoro akhirnya diajak berunding. Tempat perundingan ada di Magelang, Jawa Tengah. Ternyata perundingan tersebut hanya sebagai jalan tipu muslihat. Pada saat berunding, tiba-tiba Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian ke Makasar. Akhirnya Diponegoro wafat pada tahun 1855 di Makasar.