Kerajaan Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia

Kerajaan Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia – Pernahkah kalian melihat candi? Candi merupakan bangunan yang terbuat dari batu. Candi dibuat sebagai tempat penyembahan atau pemujaan kepada para dewa. Bangunan candi ini merupakan peninggalan bersejarah pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Bangunan candi terdapat di berbagai tempat di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, Bali dan Kalimantan. Perkembangan Hindu-Buddha di Indonesia awalnya disebarkan oleh para pedagang, terutama dari India. Agama tersebut mula-mula dianut oleh raja-raja dan para bangsawan. Kemudian rakyat dari kerajaan itu ikut menganut agama seperti rajanya.

Selain candi, kalian tentu sudah mengenal mesjid. Mesjid merupakan tempat beribadah bagi orang Islam. Agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang terutama dari Gujarat, Arab, dan Persia. Agama Islam berkembang pesat dengan adanya kerajaan-kerajaan di daerah pesisir pantai, seperti Samudra Pasai di Sumatera dan Demak di Jawa. Berikut ini kerajaan contoh-contoh kerajaan yang bercorak Hindu, Buddha, dan Islam beserta peninggalan-peninggalannya.

 

Kerajaan dan Peninggalan Hindu di Indonesia

Kerajaan dan Peninggalan Hindu di Indonesia
Kerajaan dan Peninggalan Hindu di Indonesia

 

Pengaruh Hindu masuk ke Indonesia sekitar abad ke-5 M. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa prasasti yang ditulis dengan huruf Pallawa. Pengaruh Hindu dibawa oleh pendeta dan brahmana dari India. Selain itu, para pedagang juga ikut berperan dalam penyebaran agama Hindu di Indonesia. Budaya Hindu sangat berpengaruh terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia pada saat itu.

 

Kerajaan yang Bercorak Hindu di Indonesia

Di Indonesia terdapat banyak peninggalan sejarah dari kebudayaan Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia pernah berdiri kerajaan-kerajaan Hindu. Berikut ini beberapa kerajaan yang bercorak Hindu di Indonesia.

 

Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai berdiri pada tahun 400 Masehi. Kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai terletak di Muarakaman, di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur

Pendiri Kerajaan Kutai adalah Kudungga. Kerajaan Kutai mencapai puncak kejayaan pada pemerintahan Raja Mulawarman. Peninggalan sejarah Kerajaan Kutai berupa prasasti berbentuk yupa (tugu bertulis). Prasasti itu menggunakan huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta.

 

Kerajaan Tarumanagara

Kerajaan Tarumanagara merupakan kerajaan Hindu yang didirikan pada tahun 450 Masehi. Kerajaan Tarumanagara terletak di dekat aliran Sungai Citarum, Bogor Jawa Barat. Raja Tarumanagara yang terkenal adalah Purnawarman.

Peninggalan sejarah Kerajaan Tarumanagara antara lain berupa prasati. Contohnya Prasasti Batu Bertulis di Ciaruteun Bogor, Prasasti Tugu, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Lebak, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi, dan Prasasti Muara Cianten. Dari ketujuh prasasti itu dapat disimpulkan mengenai keberadaan dan perkembangan Kerajaan Tarumanagara. Semua prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.

Raja Purnawarman sangat memerhatikan rakyatnya yang sebagian besar adalah petani. Dia pernah membangun saluran irigasi seperti yang tertulis dalam Prasasti Tugu. Agama yang dianutnya adalah Hindu aliran Wisnu. Dalam Prasasti Kebun Kopi dan Prasasti Ciaruteun terdapat telapak kaki gajah dan telapak kaki Dewa Wisnu. Menurut berita Cina, Tarumanagara disebut Tolomo. Menurut berita itu pula di Tarumanagara sudah banyak yang beragama Hindu. Sementara itu, penganut agama Budha masih sedikit.

 

Kerajaan Mataram Hindu (Kuno)

Menurut beberapa pendapat kerajaan Mataram Hindu (Kuno) terletak di pedalaman Jawa Tengah. Ibu kota kerajaan berada di Medang Kamulan. Kerajaan itu berdiri sekitar abad 8 Masehi. Raja pertama yang memerintah bernama Sanna. Setelah ia meninggal digantikan oleh Sanjaya. Ia bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya meninggal pada 746 M. Ia digantikan oleh Rakai Panangkaran, bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran.

Setelah pemerintahan Rakai Panangkaran, Kerajaan Mataram Hindu (Kuno) pecah menjadi dua. Satu kerajaan dipimpin oleh dinasti Sanjaya (beragama Hindu). Satu kerajaan dipimpin dinasti Syailendra (beragama Buddha). Dinasti Syailendra berkuasa di Jawa Tengah bagian Selatan. Dinasti Sanjaya berkuasa di Jawa Tengah bagian Utara.

Perpecahan di Kerajaan Mataram Hindu (Kuno) disatukan kembali melalui ikatan perkawinan Rakai Pikatan (dinasti Sanjaya) dan Pramudya Wardhani (dinasti Syailendra). Akan tetapi, pernikahan ini tidak disetujui oleh Balaputradewa. Ia adalah adik Pramudya Wardhani. Hal ini disebabkan Balaputradewa terancam kedudukannya sebagai putra mahkota. Akhirnya timbul pertikaian antara Balaputradewa dan Pramudya Wardhani yang dibantu Rakai Pikatan. Dalam pertikaian ini Balaputradewa kalah sehingga melarikan diri ke Sumatera.

Dengan kekalahan Balaputradewa, Rakai Pikatan kemudian menjadi raja. Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, Kerajaan Mataram Hindu menjadi aman dan makmur. Umat Buddha dan Hindu hidup rukun dan damai.

Kerajaan Mataram Hindu mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Balitung (898-910 M). Pada masa pemerintahan Balitung, Kerajaan Mataram Hindu semakin luas meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Peninggalan Kerajaan Mataram Hindu (Kuno) banyak yang berupa candi, baik dari dinasti Sanjaya maupun dinasti Syailendra. Peninggalan Kerajaan Mataram Hindu (Kuno) yang terkenal adalah Candi Prambanan. Peninggalan lainnya, yaitu Candi Gedongsongo, Candi Pringapus, Candi Selogriyo dan kelompok Candi Dieng (Candi Puntadewa, Candi Bima, Candi Arjuna). Candi tersebut dibuat untuk memuliakan orang yang telah meninggal dunia. Khususnya para raja dan orangorang terkemuka. Selain candi, peninggalan Kerajaan Mataram Hindu (Kuno) ada yang berupa prasasti, seperti Prasasti Canggal, Prasasti Balitung, Prasasti Kelurak, dan Prasasti Karangtengah.

 

Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri berdiri sejak tahun 1115 – 1222 M. Kerajaan Kediri merupakan gabungan dari dua kerajaan, yaitu Jenggala dan Kahuripan. Kerajaan Kediri terletak di daerah Kediri Jawa Timur, sekitar lembah Sungai Brantas.

Raja Kediri yang pertama adalah Bameswara. Raja Kediri yang terkenal adalah Jayabaya. Jayabaya terkenal pula sebagai pujangga. Ia pernah membuat ramalan tentang Negara Indonesia yang dikenal sebagai Janka Jayabaya.

Raja Kediri terakhir adalah Kertajaya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Kediri mengalami kemunduran. Kerajaan ini runtuh setelah dikalahkan oleh Ken Arok dari Singasari.

Peninggalan sejarah Kerajaan Kediri terdiri atas karya sastra dan prasasti. Peninggalan berupa prasasti, antara lain Prasasti Padlegan, Prasasti Palas, dan

Prasasti Panumbangan. Adapun karya sastra yang terkenal, yaitu:

1) Kitab Smaradahana karangan Empu Darmaja

2) Kitab Arjuna Wiwaha karangan Empu Kanwa

3) Kitab Hariwangsa dan Kitab Gathutkacasraya karangan Empu Panuluh

4) Kitab Krisnayana karangan Empu Triguna

5) Kitab Bharatayudha karangan Empu Sedah dan Empu Panuluh.

 

Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari berdiri pada tahun 1222. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok. Ia mendirikan Singasari setelah mengalahkan Kerajaan Kediri pada pertempuran di Ganter. Kerajaan Singasari terletak di antara Kota Lawang – Malang, Jawa Timur. Ken Arok adalah pembentuk dinasti Rajasa sebagai raja yang memiliki pengaruh di kerajaannya. Ia berusaha mempertahankan keberadaan Singasari atas keturunannya sendiri.

Tohjoyo direncanakan sebagai penggantinya. Namun, sebelum rencananya terwujud terjadi kemelut dalam kerajaan. Anusapati (anak Tunggul Ametung) membunuh Ken Arok melalui orang upahan. Setelah mengetahui bapaknya dibunuh, Tohjoyo lalu membunuh Anusapati pada tahun 1248.

Rencana balas dendam antar keturunan terus berlanjut. Tohjoyo pun mengalami nasib yang sama. Ia dibunuh oleh keturunan Anusapati. Akhirnya, pada tahun 1268 Wisnuwardhana memerintah di Kerajaan Singasari. Mulai masa itulah kerajaan ini berhenti bertikai dengan bantuan Mahesa Campaka. Mahesa Cempaka adalah saudara seayah dengan Tohjoyo dan saudara seibu dengan Anusapati. Wisnuwardhana digantikan putranya.

Raja Singasari yang terkenal adalah Kertanegara. Raja ini memiliki karisma yang besar dalam usaha mempersatukan Nusantara di bawah Kerajaan Singasari. Ia pernah menyerang Kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan ekspedisi Pamalaya (1275 M). Dalam penyerangan ini Kertanegara bekerja sama dengan Kerajaan Melayu. Kerajaan Sriwijaya pun dapat dikalahkan pada tahun 1284.

Kertanegara juga menunjukkan perhatiannya ke negara luar Nusantara. Ia pernah melakukan perjanjian persahabatan dengan Kerajaan Campa. Kemasyhuran Singasari menarik perhatian Kubilai Khan Kaisar Mongolia. Pada 1292, ia mengutus pasukan agar Singasari menjadi bawahannya. Tentu saja ajakan itu ditolak mentah-mentah. Utusan itu dilukai dan disuruh kembali ke negerinya.

Kaisar Kubilai Khan marah besar. Ia lalu mengerahkan bala tentaranya untuk menyerang Kertanegara. Akan tetapi, Joko Dolok menantangnya dengan gagah berani. Namun, Kertanegara dibunuh oleh Jayakatwang, Adipati Kediri. Ia dibantu Ardaraja, anak Jayakatwang sekaligus menantu Kertanegara.

Peninggalan sejarah Kerajaan Singasari berupa candi dan arca. Candi yang terkenal adalah Candi Kidal, Candi Singasari, Candi Jago, Candi Jawi, dan Candi Kagenengan. Peninggalan berupa arca, antara lain Arca Prajna Paramita (patung Ken Dedes), patung Kertanegara (Joko Dolok) dan patung Ken Arok.

 

Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit terletak di Sungai Brantas dekat Mojokerto. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya. Ia adalah menantu Kertanegara dari Kerajaan Singasari. Putra Lembu Taal melarikan diri ke Madura setelah menghadapi pasukan Kediri yang dipimpin Jayakatwang. Ia dibantu oleh Ardaraja.

Setelah perang usai, Raden Wijaya mendirikan desa bersama pengikutnya di Kudadu. Tempat tersebut berupa kawasan hutan Tarik pemberian Raja Jayakatwang. Hutan tersebut sebagai hadiah atas permintaan ampun Raden Wijaya yang dianggap musuhnya. Di desa tersebut Raden Wijaya berjuang mengumpulkan kekuatan. Ia berusaha merebut kembali tahta Singasari yang dikuasai oleh Kediri. Akhirnya berdirilah Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Raden Wijaya. Ia bertahta pada 1293 – 1309 Masehi. Ia bergelar Kertanegara Jayawardhana.

Raden Wijaya digantikan oleh putranya Kalagemet yang bergelar Sri Jayanegara. Kalagemet digantikan oleh Sri Gitarja yang bergelar Tribhuanatunggadewi. Pada 1350 Masehi, Tribhuanatunggadewi digantikan oleh Hayam Wuruk. Waktu itu Hayam Wuruk baru berusia 16 tahun. Hayam Wuruk bergelar Rajasanagara. Ia memerintah tahun 1350 – 1389 Masehi.

 

Kejayaan Majapahit pada Masa Raja Hayam Wuruk

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit mencapai kemajuan di berbagai bidang. Kemajuan itu antara lain di bidang sosial, ekonomi, pemerintahan, agama, dan bidang kebudayaan.

 

Bidang Sosial Ekonomi

Pada masa Hayam Wuruk berkuasa, negara aman, tenteram, dan rakyat hidup sejahtera. Perdagangan, pelayaran, dan pertanian sudah maju. Kerajaan Majapahit mempunyai banyak pelabuhan. Pelabuhan-pelabuhan terdapat di Tuban, Pasuruan, Sedayu (Gresik), dan Ujung Galuh. Pelabuhan Ujung Galuh terletak di muara Sungai Brantas. Pelabuhan ini banyak dikunjungi pedagang dari India, Cina, Arab, dan Persia.

Kerajaan Majapahit membina hubungan persahabatan dengan negara lain. Di antaranya Burma (Myanmar), Siam (Muangthai), Campa, Cina, dan India. Dengan demikian, perdagangan dan pelayaran Kerajaan Majapahit bertambah maju. Oleh karena itu, Majapahit disebut Kerajaan Maritim. Barang-barang yang diperdagangkan, antara lain beras, garam, lada, rempah-rempah, emas, perak, kayu cendana, kelapa, gula, belerang, kapas, dan sutra.

 

Bidang Pemerintahan

Kerajaan Majapahit telah mempunyai susunan pemerintahan yang baik. Raja adalah pemegang kekuasaan kerajaan tertinggi. Kedudukannya diperoleh berdasarkan hak turun-temurun.

Di bawah Raja Majapahit ada sejumlah raja-raja daerah (paduka Bhatara). Mereka memerintah di daerah-daerah. Mereka biasanya berasal dari saudara atau kerabat dekat Raja Majapahit. Raja-raja daerah bertugas mengumpulkan penghasilan kerajaan. Mereka menyerahkan upeti kepada bendahara kerajaan, dan mempertahankan wilayah.

Pemerintahan Majapahit juga membentuk badan peradilan yang disebut Sapta Papati. Untuk melaksanakan kekuasaan pengadilan disusunlah kitab hukum. Kitab tersebut bernama Kutaramanawa yang dibuat oleh Mahapatih Gajah Mada.

 

Bidang Agama

Kehidupan beragama berkembang dengan baik. Raja Hayam Wuruk pemeluk agama Hindu. Akan tetapi, rakyatnya diberi kebebasan memeluk agama yang diyakininya. Pemeluk agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan dengan damai.

Pemerintahan Majapahit membentuk badan yang mengatur kehidupan beragama, yaitu Dharmadyaksa ring Kasyaiwan dan Dharmadyaksa ring Kasogatan. Dharmadyaksa ring Kasyaiwan, adalah badan yang mengatur agama Hindu. Dharmadyaksa ring Kasogatan, adalah badan yang mengurusi agama Buddha.

 

Bidang Kebudayaan

Kebudayaan berupa seni bangunan berkembang pesat. Contohnya, pembangunan candi, seperti Candi Panataran, Candi Sawentar, dan Candi Samberjati di Blitar, Candi Tegalwangi dan Candi Sorawana di Kediri, serta Candi Tikus, di Triwulan Mojokerto.

Seni sastra juga berkembang pesat. Banyak pujangga ternama hidup pada masa itu. Contohnya Empu Prapanca mengarang kitab Negarakertagama. Adapula Empu Tantular yang mengarang kitab Arjuna Wiwaha dan Sutasoma.

 

Peranan Gajah Mada dalam Upaya Menyatukan Nusantara

Gajah Mada muncul di Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Sri Jayanegara. Pada masa itu terjadi banyak pemberontakan. Pemberontakan paling berbahaya adalah pemberontakan Kuti (1319). Pada pemberontakan ini, ibu kota kerajaan berhasil diduduki pemberontak. Karena keadaan sangat gawat, Raja Jayanegara terpaksa menyingkir dari istana.

Raja Jayanegara mengungsi ke Desa Badander. Ia dikawal oleh 15 orang pasukan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada. Berkat ketangkasan dan kecerdasan Gajah Mada, pemberontakan Kuti dapat dipadamkan. Atas jasa-jasanya itu, Gajah Mada diangkat menjadi patih di Kahuripan. Dua tahun kemudian diangkat menjadi patih di Kediri.

Pada masa pemerintahan Tribhuanatunggadewi terjadi pemberontakan Sadeng (1331). Pemberontakan ini dapat ditumpas oleh pasukan yang dipimpin Gajah Mada. Karena jasa itulah Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih (perdana menteri) Majapahit.

Pada saat upacara pelantikan, Gajah Mada mengucapkan sumpah. Sumpahnya, yaitu Tan Amukti Palapa, yang dikenal dengan Sumpah Palapa. Gajah Mada bersumpah tidak akan merasakan Palapa (kenikmatan duniawi) sebelum Nusantara dapat dipersatukan di bawah kekuasaan Majapahit.

Untuk mewujudkan Sumpah Palapa itu dibangunlah angkatan laut yang kuat dan tangguh. Armada ini dipimpin oleh Laksamana Nala. Armada laut Majapahit disegani oleh negara-negara lain. Dengan armada ini Majapahit berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Tidak ada lagi bajak laut di perairan Nusantara.

Akhirnya, Sumpah Palapa dapat terwujud pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (Rajasanegara). Seluruh Nusantara dapat dipersatukan di bawah Kerajaan Majapahit. Bahkan Semenanjung Melayu dan Tumasik juga menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

 

Peninggalan Sejarah yang Bercorak Hindu di Indonesia

Peninggalan sejarah yang bercorak Hindu meliputi candi, patung, prasasti, dan karya sastra. Selain itu, ada pula peninggalan berupa tradisi agamanya. Berikut ini contoh peninggalan tradisi yang bercorak Hindu.

 

Peninggalan Hindu

Peninggalan Hindu yang terkenal adalah Candi Prambanan. Sesuai namanya, Candi Prambanan terletak di Prambanan, Klaten Jawa Tengah. Candi Prambanan terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah. Candi Prambanan disebut juga Candi Roro Jonggrang.

Komplek Candi Prambanan merupakan Candi Hindu terbesar di Pulau Jawa. Candi Prambanan merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Hindu (Kuno). Saat itu merupakan masa kejayaan pemerintahan Raja Balitung (898 – 910 Masehi).

 

Tradisi Agama Hindu

Kerajaan-kerajaan Hindu pernah jaya hingga berabad-abad lamanya. Oleh karena itu, pengaruh Hindu sangat melekat pada masyarakat Indonesia. Bahkan, tradisi dan kepercayaan Hindu masih dipertahankan di beberapa daerah. Contohnya di masyarakat Jawa dan Bali. Berikut ini contoh tradisi dan kepercayaan yang masih melekat pada masyarakat.

  1. a) Upacara adat bersih desa di Jawa dan Bali setelah panen. Pada saat upacara, dilakukan penyembelihan hewan. Darahnya dipercikkan di atas tanah dengan tujuan mengusir hantu-hantu jahat.
  2. b) Upacara nyawer, yaitu menabur beras kuning bercampur uang logam kepada mempelai. Tujuannya sebagai pelepas terakhir dari orang tua. Beras dan uang logam bermakna agar rumah tangga dilimpahi keselamatan, kebahagiaan, rezeki, dan harta benda.
  3. c) Upacara huap lingkung, yaitu kedua mempelai saling menyuapi nasi tiga kali. Tradisi ini bertujuan agar dalam berumah tangga sama-sama mencari dan menikmati rezeki secara gotong royong.
  4. d) Upacara ruwatan pada anak tunggal. Seorang anak tunggal harus diruwat. Tujuannya agar lepas dari bahaya yang mengancam kehidupannya. Ancaman itu datang dari seorang raksasa yang bernama Bathara Kala.

 

Kerajaan dan Peninggalan Buddha di Indonesia

Kerajaan Holing (Kalingga)
Kerajaan Holing (Kalingga)

 

Agama Buddha masuk ke Indonesia hampir bersamaan dengan agama Hindu. Agama Buddha tidak hanya berpengaruh pada kehidupan sosial masyarakat, namun juga memengaruhi bentuk pemerintahan atau kerajaan pada masa lalu. Hal tersebut terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarah yang ada.

 

Kerajaan Buddha di Indonesia

Berikut ini beberapa kerajaan besar yang rajanya beragama Buddha.

 

Kerajaan Holing (Kalingga)

Menurut berita Cina, di Jawa Tengah bagian utara pada abad VII ada kerajaan bernama Holing. Kerajaan ini memiliki hubungan dengan Cina. Rajanya seorang perempuan bernama Ratu Simo. Menurut catatan I tsing, pada tahun 664 Kerajaan Holing menerjemahkan buku suci agama Buddha Hinayana. Usahanya ini dibantu oleh pendeta Buddha bernama Janabadra. Dengan demikian, agama Buddha Holing beraliran Hinayana.

 

Kerajaan Mataram

Ketika berada di Sriwijaya, I tsing juga mencatat kerajaan Buddha Mahayana di Jawa Tengah. Diperkirakan pusat Kerajaan Syailendra berada di wilayah Kedu Selatan. Kemungkinan Dinasti Syailendra melakukan ekspansi ke wilayah kekuasaan Dinasti Sanjaya. Dinasti Sanjaya terdesak, sehingga banyak di antara warganya yang melarikan diri. Hal ini didasarkan pada penemuan sejumlah candi Hindu kecil-kecil yang letaknya saling berjauhan.

Banyak di antaranya yang belum jadi. Candi-candi, antara lain Candi Dieng, Gedongsongo, Sukuh, dan masih banyak lagi.

 

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya berdiri sekitar abad ke -7 Masehi. Semula Kerajaan Sriwijaya terletak di Muaratakus, lalu pindah ke Jambi. Terakhir dipindahkan ke Palembang di Muara Sungai Musi. Kerajaan Sriwijaya mencapai zaman keemasan ketika diperintah oleh Balaputradewa. Ia adalah putra Raja Samaratungga dari Jawa.

Sumber sejarah Sriwijaya berupa prasasti. Contohnya Prasasti Kota Kapur, Karang Berahi, dan Palas Pasemah (Kedukan Bukit, Talang Tua, Telaga Batu, Kota Kapur, Karang Berahi, dan Palas Pasemah). Sumber sejarah lain berupa berita asing (Nalanda dan Tingor) dan catatan dari dinasti Tang. Menurut catatan tersebut, di Sriwijaya pernah berdiri Perguruan Tinggi agama Buddha. Guru besar agama Buddha yang berasal dari India, yaitu Sakyakirti atau Dharmakirti.

 

Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim

Kerajaan Sriwijaya maju dengan pesat karena letaknya sangat strategis. Letak Kerajaan Sriwijaya berhadapan dengan Selat Malaka dan dekat dengan Selat Sunda. Wilayah tersebut merupakan jalur pelayaran internasional pada saat itu. Wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi seluruh Pulau Sumatra, Semenanjung Malaka, Balitung, sebagian Kalimantan Barat, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah. Kerajaan Sriwijaya disebut Negara Nasional pertama di Indonesia.

Untuk menjaga keamanan dan meningkatkan perdagangan, Kerajaan Sriwijaya membangun angkatan laut yang tangguh dan kuat. Kerajaan Sriwijaya juga mempunyai armada niaga yang besar. Dengan demikian Kerajaan Sriwijaya disebut sebagai kerajaan maritim.

Sebagai kerajaan maritim, Kerajaan Sriwijaya berupaya menguasai perairan Nusantara. Kerajaan Sriwijaya berhasil menguasai Selat Malaka, Selat Karimata, Selat Sunda, dan laut-laut lainnya di Nusantara.

 

Kerajaan Sriwijaya sebagai Pusat Penyebaran Agama Buddha

Kerajaan Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha. Hal ini dapat diketahui dari berita Cina yang ditulis oleh I Tsing. Dia adalah pendeta Buddha dari Cina yang pernah tinggal cukup lama di Kerajaan Sriwijaya. I Tsing banyak menulis tentang Kerajaan Sriwijaya.

I Tsing memberitakan bahwa di Kerajaan Sriwijaya terdapat ribuan pendeta Buddha. Ia juga memberitakan bahwa di Kerajaan Sriwijaya terdapat Perguruan Tinggi agama Buddha. Salah seorang guru besar yang terkenal adalah Sakyakirti.

Banyak mahasiswa dari berbagai daerah yang belajar di perguruan tinggi tersebut. Banyak pendeta Buddha datang ke Kerajaan Sriwijaya sebelum memperdalam ilmu di Nalanda, India.

 

Penyebab Kemunduran Sriwijaya

Kemunduran Sriwijaya disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. a) Faktor dalam: Palembang yang menjadi pusat kerajaan semakin jauh dari pantai.
  2. b) Faktor Politik: Sriwijaya yang lemah tidak dapat mengontrol daerah kekuasaannya sehingga banyak yang melepaskan diri.
  3. c) Faktor ekonomi: Karena jauh dari pantai maka kapal-kapal dagang enggan singgah, sehingga pemasukan pajak tidak ada.
  4. d) Faktor Militer: Diserang Dharmawangsa dari Singasari dan Colamandala dari Majapahit.

 

Peninggalan Sejarah yang Bercorak Buddha di Indonesia

Di Indonesia terdapat banyak peninggalan sejarah yang bercorak Buddha. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Buddha sangat memengaruhi kehidupan masyarakat saat itu. Peninggalan yang bercorak Buddha antara lain berupa candi, prasasti, arca, dan tradisi agama.

 

Candi

Candi peninggalan budaya Buddha terbesar adalah Candi Borobudur. Candi ini merupakan bangunan yang besar dan megah. Bahkan Candi Borobudur menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Candi Borobudur sering dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Mereka mengagumi kemegahan Candi Borobudur yang telah berumur lebih dari seribu tahun.

Bentuk Candi Borobudur bertingkat-tingkat. Jumlahnya ada sembilan tingkat. Di puncaknya terdapat stupa yang paling besar. Secara garis besar, bangunan Candi Borobudur dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: bagian kaki candi (Kamadatu), badan candi (Rupadatu), dan atap candi (Arupadatu).

Berikut ini beberapa candi peninggalan budaya Buddha:

(1) Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sari, Candi Kalasan, dan Candi Plaosan. Candi-candi tersebut dibangun pada masa Dinasti Syailendra.

(2) Candi Muaratakus, Candi Simangambat, dan Candi Tanjung Medan. Candicandi tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

 

Patung atau Arca

Berikut ini beberapa patung bercorak Buddha yang ditemukan.

(1) Patung Buddha peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Bukit Seguntang, Palembang.

(2) Patung Perunggu Buddha, di Sikendeng Sulawesi Selatan.

(3) Patung Buddha di kompleks Candi Borobudur, Jawa Tengah.

 

Prasasti

Berikut ini prasasti bercorak Buddha yang ditemukan di Indonesia.

(1) Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Telaga Batu ditemukan di Palembang.

(2) Prasasti Karang Berahi, di Jambi.

(3) Prasasti Kota Kapur, di Pulau Bangka.

Semua prasasti tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Tulisan dalam prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno. Di Jawa juga ada prasasti bercorak Buddha. Prasasti tersebut menunjukkan keberadaan Kerajaan Mataram Kuno. Contohnya, Prasasti Balitung di Kedu, Prasasti Kalasan, dan Prasasti Karang Tengah.

 

Tradisi Agama

Agama Buddha telah memengaruhi kebiasaan masyarakat yang beragama lain. Akibatnya, terjadi pencampuran antara budaya Buddha dengan budaya agama lain. Pengaruh agama Budha terhadap tradisi masyarakat, antara lain upacara ruwatan, upacara kelahiran anak, dan upacara sedekah desa.

 

Kerajaan dan Peninggalan Islam di Indonesia

Kerajaan dan Peninggalan Islam di Indonesia
Kerajaan dan Peninggalan Islam di Indonesia

 

Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13. Islam dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia. Para pedagang tersebut mengunjungi kota-kota pelabuhan di sekitar Selat Malaka, misalnya Samudra Pasai. Sambil berdagang mereka menyebarkan agama Islam. Kemudian banyak penduduk yang memeluk agama Islam.

 

Kerajaan Islam di Indonesia

Pada abad ke-15, keberadaan Kerajaan Majapahit sudah lemah. Raja-raja bawahan di daerah pesisir banyak melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit. Setelah Kerajaan Majapahit runtuh, muncullah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Kerajaan Islam sering disebut kesultanan. Rajanya disebut sultan. Baca: Tokoh-tokoh pada Masa Islam

 

Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai berdiri sekitar abad ke-13. Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai terletak di Aceh Utara (sekarang Kabupaten Lhokseumawe). Raja pertama Kerajaan Samudra Pasai adalah Sultan Malik As-Salih. Setelah beliau wafat, ia digantikan putranya, Sultan Muhammad hingga tahun 1326. Ia bergelar Sultan Malik At-Tahir. Setelah wafat, ia digantikan oleh Sultan Ahmad. Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad datang seorang musafir dari Maroko. Ia bernama Ibnu Batutah. Ibnu Batutah menyebut Samudra Pasai dengan Sumatera. Kerajaan Samudra Pasai bertahan sampai pertengahan abad ke-15. Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai antara lain, batu nisan Sultan Malik As-Salih. Ada pula Cakra Donya yang merupakan salah satu hadiah dari Kaisar Cina.

 

Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh berdiri pada tahun 1514. Raja pertama adalah Ali Mughayat Syah. Pusat Kerajaan Aceh terletak di daerah Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, Kerajaan Aceh menjadi pusat perdagangan yang penting.

Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu kekuasaan Kerajaan Aceh mencapai Semenanjung Malaya. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, Kerajaan Aceh mengalami kemunduran. Peninggalan sejarah Kerajaan Aceh, antara lain makam Sultan Iskandar Muda dan Muhamad Syah Kuala.

 

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan Demak terletak di Kota Demak, Jawa Tengah. Didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1500 dan sekaligus sebagai sultan pertama.

Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Trenggono. Setelah Sultan Trenggono wafat, timbul perang saudara. Pangeran Hadiwijaya (menantu sultan) memindahkan ibu kota kerajaan ke Pajang. Kerajaan Demak berakhir pada tahun 1568.

Peninggalan sejarah Kerajaan Demak, antara lain Masjid Agung Demak. Mesjid ini didirikan oleh Walisongo pada 1478 Masehi. Di mesjid ini terdapat Pintu Bledeg yang dibuat oleh Ki Ageng Selo. Saka Tatal dibuat oleh Sunan Kalijaga. Saka Tatal merupakan tiang utama Masjid Agung Demak, dan piring Campa.

 

Kerajaan Banten

Semula Kerajaan Banten berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Ketika Kerajaan Demak mulai surut, Kerajaan Banten memisahkan diri. Raja Banten yang pertama adalah Sultan Hasanuddin.

Pusat Kerajaan Banten terletak di Kabupaten Serang, Banten. Kerajaan Banten merupakan pusat kerajaan Islam di daerah barat Pulau Jawa. Ketika Sultan Hasanuddin berkuasa, Kerajaan Banten berkembang pesat. Kerajaan Banten mempunyai pelabuhan internasional. Pelabuhan tersebut didatangi pedagang dari berbagai bangsa.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651 – 1682). Setelah beliau wafat, Kerajaan Banten mulai mengalami kemunduran. Peninggalan Kerajaan Banten, antara lain Masjid Agung Banten, Benteng Speelwijk, dan Meriam Ki Amuk.

 

Kerajaan Gowa-Tallo

Kerajaan Gowa-Tallo merupakan kerajaan kembar yang bersatu. Kerajaan ini disebut juga Kerajaan Makassar. Pusat Kerajaan Gowa-Tallo terletak di Sobaopu, Makassar (Sulawesi Selatan).

Kerajaan Gowa merupakan kerajaan Islam pertama di Sulawesi. Raja pertama Makassar adalah Sultan Alaudin. Kerajaan Gowa merupakan kerajaan maritim yang kuat. Letaknya sangat strategis sebagai penghubung antara Malaka, Jawa, dan Maluku. Dengan demikian kerajaan ini menjadi pusat perdagangan Indonesia Timur. Kerajaan Gowa memncapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Rakyatnya hidup makmur dari hasil perdagangan rempah-rempah.

Peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo, antara lain istana tua dari kayu (museum Balompua), makam Sultan Hasanuddin, Benteng Fort Rotterdam, dan istana Kerajaan Gowa.

 

Peninggalan Sejarah yang Bercorak Islam di Indonesia

Ajaran Islam mencakup semua segi kehidupan. Oleh karena itu, peninggalan sejarah Islam di Indonesia beraneka ragam. Sebagian besar peninggalan Islam merupakan perpaduan kebudayaan Islam dengan kebudayaan setempat. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam dilakukan dengan cara damai, tanpa menghapus kebudayaan yang ada. Peninggalan sejarah yang bercorak Islam di Indonesia, antara lain mesjid, pesantren, keraton, batu nisan, karya sastra, dan tradisi agama.

 

Masjid

Masjid merupakan tempat peribadatan agama Islam. Sejak masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia banyak mesjid didirikan. Mesjid-mesjid peninggalan sejarah Islam, antara lain Mesjid Demak, Mesjid Kudus, Mesjid Indrapura Aceh, dan Mesjid Cirebon.

 

Pesantren

Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam. Pengajar di pesantren adalah seorang kiai. Para siswanya dinamakan santri. Materi yang diajarkan adalah kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab. Para santri biasanya tinggal di asrama yang dinamakan pondok pesantren.

Pesantren yang terkenal, antara lain Pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur, Pesantren Modern Gontor di Ponorogo Jawa Timur, dan Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya.

 

Keraton (Istana)

Keraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal keluarga raja. Berikut ini contoh peninggalan keraton.

1) Keraton Cirebon, didirikan oleh Syarif Hidayatullah pada tahun 1626 Masehi.

2) Keraton Kaibon Banten, merupakan peninggalan kerajaan Islam di Banten pada masa Faletehan, dan

3) Keraton Kanoman dan Kasepuhan di Cirebon.

 

Batu Nisan (Makam)

Batu nisan berfungsi sebagai tanda kubur. Tanda kubur yang terbuat dari batu bentuknya bermacam-macam. Berikut ini batu nisan peninggalan sejarah Islam di Indonesia.

1) Batu nisan Malik As Saleh, raja pertama dari Kerajaan Samudra Pasai. Batu nisan ini terletak di Lhokseumawe, Aceh.

2) Batu nisan Maulana Malik Ibrahim, berpahatkan huruf Arab. Batu nisan terletak di Gresik, Jawa Timur.

3) Batu nisan Sultan Hasanuddin, Raja Makassar.

 

Karya Sastra

Peninggalan karya sastra Islam di Indonesia dikelompokkan menjadi empat, yaitu hikayat, suluk, syair, dan babad. Hikayat peninggalan sejarah di Indonesia, antara lain hikayat raja-raja Pasai, Hang Tuah, Jauhar Manikam, dan hikayat Amir Hamzah.

Suluk adalah kitab yang berisi tentang ajaran tasawuf. Suluk yang terkenal, yaitu suluk Sukarsah, Wujil, dan suluk Malang Sumirang. Karya syair yang terkenal, yaitu syair Abdul Muluk dan Gurindam Dua Belas. Babad adalah cerita sejarah yang merupakan cerita biasa.Contohnya babad Tanah Jawa, babad Cirebon, sejarah Melayu (Salawat Usalatin), dan babad Banten.

 

Tradisi Agama

Tradisi Islam yang masih melekat di masyarakat, antara lain upacara kematian. Upacara kematian merupakan peringatan meninggalnya seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan ke-1.000. Tujuannya agar arwah yang meninggal mendapat pengampunan dan masuk surga. Tradisi yang lain, yaitu pembacaan kitab barzanzi pada setiap bulan Rabiul awwal atau Kamis malam. Kegiatan ini merupakan pembacaan salawat kepada Nabi Muhammad saw.